CERPEN
Putri guruku
Waktu itu mentari terlihat
sayup-sayup melambai pada sore hari. Menunjukkan bahwa ia akan
menenggelamkan dirinya. Kemilau mega kemerah-merahan, sungguh menawan. Bagaikan
bunga mawar setaman berhamburan di atas awan. Semilir angin yang sedang
bergoyang goyang menambahkan sejuknya fikiran. Ketika itu aku menyusuri
jembatan sungai yang panjang. Di tambah semua kendara an yang lalu lalang
berkeliaran di atas jembatan. Aku yang tertatih-tatih melewati trotoar jembatan
dengan raut wajah yang payah dan kecapean. Langsung segar ketika wajah
dihadapkan aliran sungai yang sedang asyik menari-nari menuju pelimbahan.
Sampailah diujung jembatan. Delman yang dari tadi
sabar menunggu para penumpang untuk menaikinya. Dan itulah aku penumpang terakhir
yang akan diberangkatkan. Bunyi khas tapal kuda ’’ketoplak-ketopak’’ menyusuri
sepanjang jalan. Pepohonan yang berjajar dipinggir jalan seperti menyambut
dengan kata selamat datang. Akhirnya
turunlah aku didepan bangunan yang begitu megah, yaitu bangunan para pencari
ilmu yang berlabelkan pondok sawunggaling. Dengan menengadah ke atas awan, aku
ucapkan ’’ Alhamdulillah’’, akhirnya kembali juga aku ke pesantren, setelah
libur panjang yang melelahkan.
Kriiiing,,,,kriiiing ,,,,kriiiiiing
alaram yang sangat berisik membangunkanku. Kemudian aku tersigap langsung bangun, alarm itu menunjukkan waktu pukul 03.00 pagi. Aku terdiam sejenak mengumpulkan ruh-ruh yang telah lama pergi. Setelah kukira cukup, barulah aku berdiri memantapkan hati mengambil air wudlu. Kemudian barulah aku berserah diri. Sedangkan ayam jago pun ribut dengan sendirinya. Tak berselang lama, terdengarlah adzan subuh yang begitu menggema ke pelosok desa secara bersahut-sahutan. Menunjukkan waktu solat subuh telah tiba. Dan aku pun beranjak kemusolla. Sedangkan para pengurus sibuk berteriak-teriak membangunkan para santri, untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah. Setelah cukup lama para ustadz menunggu para santri bermalas-malasan mengambil air wudlu ahirnya sholat akan segera dimulai,
Teeet,,,teeet,,,teeeet
suara bel yang begitu sering ku dengar menyemburkan bunyinya. yah, bel mengaji akan segera dimulai. Aku dan sahal langsung mengambil kitab dan trus bergegas lari.
‘’ cepat
hal nanti telat,’’ajakku.
‘’ iya
tunggu sebentar,’’kata sahal.
‘’ sekarang waktunya mengaji pak kiai,’’lanjutku.
‘’ iya aku
tau itu,santai dikit lah kau,’’ jawab sahal.
Setelah tiba
dikelas ternyata pak kiai belum datang. Untunglah kita belum sampai telat,
tidak berselang lama, pak kiai datang dengan penuh wibawa. Ternyata pak kiai
masih sehat bugar, pak kiai yang selama ini seseorang yang paling aku hormati
dan aku cintai setelah kedua orang tuaku. Kemudian ketika pak kiai
berlama-lamaan mengajar. Aku yang duduk didepan diantara sahal dan teman-teman
yang lainnya. Tekesima mendengar pesan dan tutur katanya. Seorang yang aku
kagumi, seorang yang juga membimbingku, mengajariku, membesarkanku sehingga aku
dewasa sampai saat ini. Teringat pesan beliau, pak kiai mengatakan’’ jadilah
engkau seperti pohon yang tumbuh menjulang tinggi. Akarnya mengakar ke bawah.
Daunnya yang lebat dan rindang. Dengan buah yang begitu segar. Sedang batang pohonnya
berdiri kokoh menahan terjangnya anging yang kencang, sehingga pohon tersebut
bermanfaat untuk orang yang berteduh hingga orang tersebut memakan buah hasil
kerja kerasmu. Dan satu lagi, jagalah hatimu dengan tuhanmu!’’ mungkin hanya
itu yang bisa ku ingat ketika beliau bertutur kata pada para santri, dan beliau
pun mendoakan, semoga kalian sukses.
***
‘’ hey sahal, ayo kita pergi skolah’’,
ajakku.
‘’ iya tunggu, aku masih belum mandi nih’’, kata sahal.
’’ ah kamu ini kebiasaan’’,kataku agak kesal.
’’ iya iya soryy,kayak gak tau aku aja’’,celetuk
sahal.
’’ ayo buruan, ku tunggu didepan ya ‘’,,,,
Setelah kita berdua sampai disekolah. Kami masih
bingung mencari kelas yang akan kami tempati. Karena aku dan kawanku adalah
murid baru yang akan duduk di bangku SMA. Namun aku dan sahal mencoba tuk
mencari daftar nama yang dipampang diantara kelas-kelas yang ada. Dan akhirnya
ketemu juga, aku dan sahal berada tepat dikelas X A. Dan aku pun melihat bangku
kosong yang rasanya pas untuk aku duduki. Aku pun mengajak sahal untuk duduk
bersamaku. Kemudian tiba tiba ada sesuatu bordering. Treeing,,,,treeing,,,,treeing,
eh ternyata bunyi bel tanda masuk kelas dimulai.
Di atas bangku aku melihat dari kejauhan. Sesosok
laki laki gagah dan rupawan. Kelihatannya akan masuk dikelas ini. Aku pun
berangan-angan siapakah gerangan. Ketika telapak kakinya sampai di daun pintu.
Dengan gagahnya ia mengucakan salam ’’assalamualaikum’’ sehingga membuyarkan
lamunanku. Pak guru mengawali pembicaraan dengan suatu perkenalan. Dengan tegas
ia memperkenalkan namanya, ia pun lebih akrab di panggil Pak Su’ud, begitulah
biasanya kakak kelas menyapanya. Ketika beliau mengajar, banyak di antara kita
yang menyukai pelajaran beliau. Begitu juga dengan diriku. Beliau adalah
seorang pengajar PAI, tepatnya agama islam yang mana beliau begitu jelas cara
penjabarannya. Kemudian tanpa sadar diriku telah mengagumi seorang guru yang
gagah dan rupawan. Setelah sekian hari sekian lamanya aku sering konsultasi
empat mata dengan Pak Su’ud. Hingga akhirnya kedekatanku dengan Pak Su’ud semakin
erat.
Setelah selang Satu tahun, murid-murid baru pun
berdatangan. Rasa hormatku kepada Pak Su’ud masih bertahan sampai sekarang.
Entah ada apa dengan diriku. Baru-baru ini gejolak hatiku bergetar ketika
bertemu perempuan yang tak lain merid baru disekolahan ini. Banyak lelaki yang
terpikat olehnya, tak terkecuali diriku, sebut saja namanya Hanifah. Setiap
diriku bertemu dengannya selalu saja hati ini berontak. Terkadang aku
melihatnya sekejap, kemudian merunduk seolah olah tak tau apa-apa. Padahal hati
ini tak bisa dibohongi bahwa ada kata cinta dihatiku. Malah aku sering memakai
bahasa mata, sebagai tanda aku mencintainya. Tapi kemudian semua itu menjadi
berubah, ketika aku mendengar kabar dari teman-teman. Tak disangka perempuan
cantik yang bernama Hanifah itu adalah putri dari seseorang yang aku hormati. Tak
lain adalah putri kesayangan Pak Su’ud.
Setelah aku tahu bahwa dia adalah putri dari Pak
Su’ud. Nyaliku semakin menciut dan aku pun seperti tak punya keberanian tuk
ungkapkan rasa cintaku padanya. Terkadang aku bergumam dalam hati ‘’kenapa
harus dia yang aku cintai, apakah tidak ada yang lain’’mungkin betul kata
orang, cinta adalah anugrah, bukan paksaan, cinta perlu disambut dan tak perlu
dihindari, tapi ada satu hal yang terpenting jangan disakiti. Semenjak itu aku
sering memendam rasa cintaku padanya. Mungkin karena aku malu bahwa dia adalah
putri guruku. Tak sepantasnya aku mencintainya, seolah-olah diriku lancang
telah mencintainya. Tapi aku juga sadar, mungkian dia terlalu dini tuk
mendengar kata kata cinta. Masih jauh perjalanan dia tuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya.
Aku juga kasihan jika waktu belajarnya terganggu oleh diriku dan mungkin
sebaiknya aku pendam dulu rasa cinta itu.
Namun, menginjak hari hari terakhirku disekolah.
Tepatnya kelas XII SMA. Entah mengapa hati ini tak bisa diajak kompromi. Hasrat
tuk mengtakan bahwa, aku cinta itu, kemudian hadir begitu saja. Hingga akhirnya
sepucuk surat kulayangkan tepat berada di atas kedua tangan hanifah. Dan kertas
ini adalah kertas kenangan terakhirku semasa aku hidup di SMA. Tapi isi didalam
surat itu bukanlah kata aku mencintaimu melainkan hanya kata, aku senang bisa
kenal dengan kamu. Mungkin itu sebagai isyarat bahwa aku mencintaimu, meskipun
itu tak langsung, aku Cuma berharap kamu sadar tentang hatiku.
Perpisahan itu juga, mengingatkanku pada ayahnya.
Yang mana ketika itu Pak Su’ud sedang tidak ada waktu untuk mengajar. Beliau
bersantai di meja guru sambil membaca buku. Aku Pun menghampirinya dan mencium
punggung tangan beliau. Dengan penuh sopan santun aku mencoba tuk mengalirkan
pembicaraan dan aku hanya mengatkan terima kasih atas semuanya. Setelah
kelulusan ini saya mungkin sudah tidak ada di pondok sawunggaling lagi. Karena
saya akan melanjutkan belajar dikediri. Saya juga tidak akan seperti biasanya
lagi bisa bertemu bapak setiap hari. Sekali lagi ku ucapkan terima kasih atas
semuanya. Lalu kemudian beliau menjawab’’ ya sama sama, berhati hatilah, dan
belajarlah yang sungguh sungguh.’’ mungkin kata itu yang bisa ku ingat sampai
saat ini.
Setelah lama menunggu satu bulan penuh pengumuman hasil
kelulusan yang mengkhawatirkan. Ternyata aku lulus dengan nilai cukup lumayan.
Meskipun tak terlalu jelek-jelek amat. Aku cukup merasa lega atas semua ujian yang
menguras tenaga dan fikiran. Akhirnya berkuranglah sudah beban fikiranku yang
pernah ada. Kemudian perayaan haflah akhirus sanah sudah didepan mata. Itu
menunjukkan bahwa aku tak lama lagi untuk keluar dari pondok ini dan
melanjutkan study dikediri. Ketika haflah akhirus sanah digelar. Seketika
itulah waktu terberatku untuk meninggalkan pondok yang bertahun-tahun tak lelah
memberikan aku akan ilmu. Memberikan sebuah arti kehidupan dan lain sebagainya.
Rela ataupun tak rela aku harus tetap melakukan demi akan terwujudnya cita
citaku. Setumpuk buku buku, kitab dsb. Telah penuh setelah kumasukkan kardus. Sedangkan
pakaian, kaos, sarung dan celana, telah penuh kutaruh didalam tas. Setelah
semua selesai ayah kemudian mengajakku untuk mengizinkanku kepada Pak Kiai.
Setelah lama berbincang-bincang. Restu itu pun keluar dari kedua bibir Pak Kiai
dengan berberat hati. Dengan doa restunya itu, sudah cukup bagiku untuk bisa
meringankan beban aktifitasku sehari hari. Setelah lama aku pandangi bangunan
pondok yang megah. Dengan mata yang berkaca-kaca serasa aku akan selalu merindukannya.
Berat rasanya aku langkahkan kaki ini tuk meninggalkan pondok yang kucintai
ini. Namun ayahku memaksaku untuk pulang.
‘’ ayo kita pulang?’’ ajak ayah….
‘’…ya ayah,tunggu sebentar, aku akan berpamitan
kepada teman-teman,’’rengek ku.
Khususnya kepada sahal, sahabat terbaikku selama
aku menimba ilmu di sini. Dan tak akan ku lupakan semua kenangan yang pernah
ada di benak hati ini.
Kemudian
dengan berat hati ku langkahkan kaki keluar menuju gerbang pondok dengan ucapan
‘’bismillah’’.
Sudah selang beberpa tahun lamanya aku
meninggalkan pondok sawunggaling. Kini aku juga sudah terbiasa dengan aktifitas
baruku di Kediri yaitu sebuah universitas swasta yang tidak begitu terkenal
namanya. Sebut saja universitas Imam Bonjol, di situlah aku belajar. Dan tak
tersa aku sudah 3 tahun disana. Namun ada yang mengusik hatiku. Ketika aku lihat
perempuan yang begitu cantik-cantik, mengingatkanku terhadap seseorang yang
pernah mengisi hatiku yaitu Hanifah. Dalam benakku. Aku berfikir ‘’ iya,
bagaimana kabarnya, aku ternyata merindukannya, aku pun tak ambil panjang
lebar. Mungkin di era yang serba modern ini aku bisa menemukannya lewat
facebook. Setidaknya aku sudah mengantongi namanya, meskipu jajaran nama-nama
yang sama itu ternyata banyak sekali.
Tetapi jalan keluar agar aku bisa mengenalinya adalah dengan mengetahu fotonya.
Dan setelah 2 jam lamanya aku mencari dari temannya yang sudah aku kenal
sebelumnya, mungkin ada. Ternyata ketika aku menggeser urutannya, sepertinyaaku
mengenal wajah ini. Wajah yang tak lagi asing bagiku. Iya benar dia sungguh
Hanifah, langsung saja tanpa pikir panjang, aku meminta pertemanan padanya, dan
ku harap dia pun menerimanya. Sesekali aku melihat fotonya, dia terlihat lebih
cantik dari sebelumnya. Dan itu sudah cukup melepaskan rinduku padanya. Tapi
keadaaan pun menjadi berubah saat itu juga. Ketika aku melihat profilnya dan foto foto mesrah dengan kekasihnya membuat hatiku hancur berkeping keping, rasanya sudah berbeda dan aku sungguh kecewa,
ternyata dia sudah mempunyai kekasih. Akhirnya lunturlah niatku untuk
mengatakan aku cinta padanya. Timbul juga rasa menyesal mengapa dulu aku tidak
mengatakan cinta padanya. Tapi yah sudah lah, mungkin ini sudah di atur oleh
yang di atas. Aku tak boleh menyesal, toh menyesal itu tak ada gunanya. Semoga
saja tuhan mempersiapkan seseorang yang terbaikuntuk ku, mulai sa at itu juga aku tak ingin memikirkannya lagi dan pupus sudah harapanku untuk bisa bersamanya.....
Komentar
Posting Komentar