Cerpen islami.....




KECUPAN TERAKHIRKU
Sebulan yang lalu rumah ini penuh dengan keramaian. Nuansa pelaminan masih lekat dalam benak pikiranku. Sungguh tak terlupakan, ketika canda tawa mulai mencair dan senyumannya mulai bermekaran. Dia sangat cantik malam itu. Khas dengan gaun pengantin pada umumnya. Meskipun semua pasang mata tertuju pada aku dan dia. Aku pun tak menghiraukan, biarlah aku asyik bercanda dengan nya dan pelaminan pun menjadi milik kita berdua. Mungkin dalam benak mereka ada yang iri atau bahkan ada yang  ‘’ Ah , saya juga sudah pernah seperti itu.’’ Tapi semua itu sudah berlalu, kini dia adalah milikku. Dan mulailah lembaran kehidupan yang baru.
‘’ kang mas, kang mas,,,?’’ terdengar suara dari kejahuan. Sangat jauh sekali, suara itu mulai mendekat, lebih dekat, dan mulai Nampak, ternyata itu istriku.
‘’ kang mas mau makan apa,,,?’’ tanyanya.
‘’ terserah, apa yang adek masak mas pasti suka.’’ Jawabku lirih. ‘’ oh yach, tambahkan sambal ya, dan jangan lupa kalau masak pakai cinta yach.’’ Godaku sambil tertawa tipis.
‘’ ah gombal.’’ Jawab nya.
 Kira kira istriku masak apa yach. Mulai penasaran dalam pikiran ini. Ingin rasanya pergi ke dapur untuk menggodanya. Ah malas ah, duduk santai saja disni. Sambil baca koran ditemani sruput kopi yang sudah tak panas lagi.
Tak berselang lama aroma masakan menggagu hidung ini. Biar ku tebak , pasti istriku masak tempe dan sambal terasih. Wah mantap sekali ini. Tapi itu masih dalam bayanganku. Dan teriakan istriku membuyarkan lamunanku.
‘’ kang mas makanan nya sudah siap.’’ Teriak istriku.
‘’ wah, waktunya makan nih.’’
Bayangan tempe dan sambal tersih menari nari di atas kepalaku. Tapi setelah kupandangi  semua isi di atas meja makan. Tak ada satupun  tempe diatasnya. Yang ada tumis udang dan sambal terasih.
‘’ wah boleh juga nih.’’ Kataku.
Tapi dalam hati berbisik ‘’ pintar juga dia memasak.’’
Sambil menikmati sarapan pagi kita larut dalam obrolan panjang. Dan tak terasa sudah waktunya aku untuk pergi kesekolah.

‘’ dek, adeeek, kang mas mau brangkat ngajar…?’’
‘’ iya iya, tunggu sebentar.’’ Teriaknya.
Istriku berlari ke arahku, tergesa gesa dan kemudian menabrakku. Sesekali ia merapikan bajuku. Dan mengikatkan tali sepatuku  dan tidak lupa ia selalu berpesan padaku.
‘’ semangat yach, dan yang sabar menghadapi anak anak.’’
Sepertinya kata kata itu suah sering terdngar olehku. Terkadang aku menggodanya dengan menirukan ucapannya dan dia pun tersipu malu. Namun suatu saat istriku pernah tidak mengucapkan pesan-psan itu. Tidak seperti biasanya dia seperti itu. Aku pun bertanya-tanya ada apa gerangan. Seketika itu pun aku langsung menanyakannya.
‘’ adek sedikit berbeda, apa ada masalah…?’’
Istriku kemudian berpaling membuat diriku semakin penasaran. Ada apa gerangan, aku pun tak enak paanya dan kutanyakan kembali kegelisahanku.
‘’ adek, ada masalah apa…?’’ tanyaku hati-hati
‘’ jangan ikut campur.’’ Bentaknya.
‘’ kenapa…?’’ kejarku.
‘’ mas jahat, mas jahat.’’
Ia lari ke kamar dan aku sempat meraih tangan nya.
‘’ hey, tolong jelaskan, mas salah apa…?’’
‘’ pokoknya mas jahat, lepaskan tanganku mas.’’
Aku lepaskan tangannya dan membiarkan ia lari kekamar dan menutup pintunya dengan keras.
‘’ bruak, pergi sana.’’
‘’ hey, oke oke aku yang salah, tapi tolong buka pintunya.’’
‘’ enggak mas, mas jahat, pergi pergi pergi.’’ Pintanya.
‘’ baik lah kalau itu maumu, aku akan pergi.’’ Kataku mengalah.
Tak sampai aku berjalan lima langkah. Terdengar suara pintu kamarnya terbuka dan dia memanggilku. Dengan wajah seperti orang yang tak punya salah apa-apa. Kemudian dia mendekatiku dengan mengucapkan kata maaf dan mengucapkan kata yang telah direncanakannya. Apalagi kalau bukan ‘’ slamat ulang tahun, happy birthday to you mas.’’
Ingin rasanya memarahinya namun itu tak terjadi karena aku kalut dalam senyumannya. Dan aku katakana padanya ‘’ lihat saja nanti, akan ku balas kamu deeek.’’
Dia lantas tertawa.

Sudah beberapa bulan aku hidup bersamanya . asam manis kehidupan telah kita lalui bersama. Hari demi harri amatlah tak terasa berlalu begitu saja. Hingga suatu hari aku bertemu dengan tetangga. Ia menghinaku, katanya aku ini suami macam apa. Aku pun bertanya-tanya ‘’ ada apa?’’  ia menuturkan bahwasanya kemarin dia berjumpa dengan istriku di puskesmas. Dan dia berkata ‘’ seharusnya kamu harus menemaninya, kamu tau mengapa istrimu kepuskesmas…?’’
‘’ tak tahu.’’ Cuma itu jawabku.
‘’ istrimu hamil.’’ Bentaknya.
Astaga aku tak habis pikir, kenapa ia merahasiakanya. Apa ia mau member surprise lagi padaku. Tapi itu tak akan kubiarkan. Tak mau ambil pusing, aku pun mengucapkan terima kasih pada tetanggaku. Dan pergi tanpa menghiraukannya begitu saja. Mungkin inilah saatnya diriku memberikan hadiah pada istriku tercinta. Katakanlah sebagai tanda maaf karena aku tidak bisa menemaninya. Aku pun langsung pulang dan memastikan bahwa dia benar-benar ada dirumah. Sekalian aku pamit untuk memberikan surprise padanya.
Ketika aku sampai dirumah. Istriku masih santai-santai saja. Tanpa pasang wajah yang curiga. Ku ambil uang secukupnya kemudian keluar rumah, menaiki motor dan berteriak.
‘’ dirumah saja, aku akan berikan sesuatu padamu…?’’
Bayangan toko yang aku tuju sudah ada dalam catatan pikiranku. Setelah setengah jam perjalanan aku sampai ditokonya. Tak berselang lama aku pun langsung membeli kalung emas dengan mata permata. Setelah tawar menawar sudah. Dan akupun membayarnya. Lalu aku memohon pada penjualnya untuk menyertakan dibungkusnya. Surat yang telah aku persiapkan sejak itu juga. Stelah semuanya beres. siap untuk pulang dan memberikan kejutan pada istriku tercinta.
Aku tancap gas dan kecepatan menjadi 60 km/jam. bayangan istriku seperti sudah didepan mata. Rasa ingin cepat sampai rumah semakin menjadi-jadi . kecepatan mulai bertambah. Semakin cepat, aku pun tergesa-gesa. Didepanku ada truk tronton, kucoba menyalipnya. Dan kulihat kecepatan semakin bertambah 80 km/jam. Aku tak sadar ternyata didepanku ada mobil bak terbuka, melintas begitu saja. Begitu cepat, aku tak menyangka.
‘’ wuaaaaaah,,,,,Bruaaak….!!!’’
Aku kehilangan keseimbangan, tak berdaya.
Truk  tronton menyambar.
Menyantapku.
Begitu cepat, amat cepat. Dari belakang.
Bruaaaak…….kreeeeeeeeek……..’’ istriku…..…#*&#%*#!!!!!!.’’
Aku terpental terseret 15 M. Aku mencoba membuka mata.  Aku menjerit, teriak dan menangis sejadi-jainya. Bayangan itu haiah untuk istriku terlihat 5 M dariku.
Aku coba meraba.  ‘’ hadiah istriku, hadiah istriku, tak bisa daaku sesak, sesak sekali.’’
Aku tertidur dan tak sadarkan diri. Semua orang mengerumuniku. Tak ada satupun yang mengenaliku. Mereka berbisik, memberikan pengumuman bahwa ada kecelaka an tragis.
 Tak ada yang mengurusku. Mereka membiarkanku kesepian, tergeletak dipinggir jalan. Sampai setengah jam baru polosi mau mengurus jasadku. Dan kemudian menyerahkan jasad ini pada istriku. Tak kusangka dia tak menerima, ketika tubuh ini sudah jelas berada dihadapannya.
‘’ enggak mungkin pak, gak mungkin ini terjadi, dia tadi,,,,,,,dia tadi,,,,,,,
 sudah janji pada saya pak…’’ tangisnya.
‘’ iya,,, tapi tolong di cek, apa benar ini suami ibu.’’
Dia membukanya dan dia bercucuran air mata, ku tau dia akan kuat menerimanya.
‘’ kang mas, kang mas, bangun mas,,, aku mengandung anakmu mas, mas bangun maaaas..’’
Ia berpaling dan lari, dia menangis berontak dan kecewa.
‘’ kamu membohongi saya mas.’’
Semua tetangga menkat menghibur istriku, mereka memeluknya ddan meredamnya.
‘’ yang sabar,,, yang sabar yach.’’
‘’ tapi dia sudah janji memberi kejutan padaku, tapi apa buktinya, kejutan jasad yang tak bernyawa…!!!” istriku mengadu.

Sepertinya baru kemarin aku menikah dan suamiku sudah kau ambil nyawanya. Kenapa harus terjadi seperti ini, lemas rasanya. Aku tak kuasa, ingin menjerit menyalahkan takdir. Tapi tak bisa karena takdir tak memihak padanya.
Sudah sejam lamanya semua tetangga  penuh sesak memadati rumahku. Berduka cita dan mengibarkan bendera kematian yang tak kuharapkan slama-lamanya. Tapi apa boleh buat semuanya sudah terjadi. Tak berselang lama seseorang tak kukenali menghampiriku begitu saja. Katanya ia menemukan sesuatu yang mungkin itu barang milik suamiku. Seketika itu kubuka kado dari suamiku yang berisikan sepucuk surat dan bungkusan yang entah apa itu. Tapi aku lebih memilih goresan hati suamiku yang bertuliskan:

       Istriku aku mencintaimu. Cinta dari dalam lubuk hatiku. Maafkan suamimu karena tidak bisa menjadi suami yang sempurna untukmu. Tak bisa selalu menemanimu dan tak selalu disampingmu. Tolong jaga kandungan dan kesehatanmu demi anak kita berdua.setiap hari aku selalu mencium keningmu, ketika aku bangun dari tidurku. Sedang dirimu masih terlelap dalam tidurmu. Itu sebagai bukti karena memang aku mencintaimu. Sekali lagi maafkan aku.
                                      Salam sayang dari suamimu.

Setelah membaca surat itu. Aku  tertunduk bercucuran air mata. Lembab, kesal,  dan tak terima. Kemudian aku  menghampiri  jasad suamiku, berbisik dengan kata-kata yang indah.
“ aku juga mencintaimu.” Dan memberikan kecupan terakhir untuk suamiku.



Jangan lupa komentarnya trima kasih.....salam Oi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEKILAS BIOGRAFI MUASSIS ROMO KH. MOH. YAHDI MATLAB